Dahulu kala Kerajaan Mataram merupakan salah satu kerajaan besar di Pulau Jawa. Keturunan dan kerabat Kerajaan Mataram lah yang sekarang memimpin Kesultanan di Kota Solo dan Yogyakarta. Pada masa itu, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I juga mendirikan Praja Mangkunegaran atau Kerajaan Mangkunegaran di Kota Surakarta. Wilayah kekuasaan Mangkunegaran pun terbentang luas meliputi daerah Sragen, Karanganyar dan Imogiri.

Pusat pemerintahaan Praja Mangkuneragan ini berlokasi di sebelah Selatan Sungai Pepe dan sering disebut sebagai Pura Mangkunegaran. Diakui secara resmi setelah diadakannya perjanjian Salatiga pada tanggal 17 Maret 1757. Karenanya, jika anda berkunjung ke salah satu wisata Solo ini, maka anda akan  melihat bangunan pada zaman penjajahan Belanda dan bisa mengenal lebih banyak sejarah kesultanan dan kerajaan di Surakarta.

pura-mangkunegaran-arsitektur-jawa-eropa
source : travel.detik.com

Eksplorasi Pura Mangkunegaran

Nama Pura berasal dari bahasa Jawa artinya Istana atau Kerajaan, Pura Mangkunegaran ini selain kaya akan sejarahnya juga terkenal dengan perpaduan arsitektur Jawa dan Eropa pada bagian interior hingga ornamen-ornamen di beberapa sudutnya. Setelah melewati pintu gerbang utama istana, anda juga dapat melihat Pamedan, sebuah tempat pelatihan prajurit pasukan Mangkunegaran. Dihalaman Pura Mangkunegaran ini pun terdapat gedung kecil bergaya Belanda yang bertuliskan Kavalerie-Artilerie yang dahulunya merupakan sebuah tempat latihan para pasukan berkuda.

Melewati pintu gerbang kedua, anda akan dibawa melihat pendopo besar dengan luas sekitar 3.500 meter persegi. Besarnya Pendopo Ageng ini dapat menampung hingga 10.000 orang, loh! Uniknya lagi, dahulu seluruh bangunan pendopo ini pun dibangun tanpa paku. Selain itu, warna khas keluarga Mangkunegaran juga mendominasi pendopo ini, yakni warna Pari Anom kuning dan hijau.

pendopo-pura-mangkunegaran
source : flickriver.com

Pada langit-langit pendopo, anda akan melihat hiasan terang yakni astrologi Hindu-Jawa yang digantungi dengan lampu-lampu antik. Tidak hanya memiliki luas yang mengagumkan, jika anda masuk kedalam pendopo ini, anda pun dapat merasakan nuansa Jawa yang khas. Disini terdapat aneka ragam gamelan pusaka seperti gamelan Kyai Seton, gamelan Kyai Kanyut Mesem dan gamelan Lipur Sari.  Tiga set gamelan di Pura Mangkunegaraan ini pun juga dimainkan, akan tetapi hanya satu yang dimainkan secara rutin dan gamelan lainnya hanya dimainkan dalam upacara-upacara tertentu saja.

Taman yang menjadi cagar alam dan Beranda Dalem

Selain menyuguhkan pendopo besar, kemegahaan bangunan Pura ini juga dilengkapi dengan taman cantik yang ditumbuhi pohon-pohon berbunga dan semak-semak hias. Taman di dalam Pura Mangkunegaraan ini pun merupakan cagar alam, dimana terdapat juga sangkar burung hingga patung-patung klasik bergaya Eropa serta air mancur yang memberkan suasana tenang dan alami.

pura-mangkunegaran-taman
source: indonesia-tourism.com

Anda juga dapat melihat ruang bersudut delapan atau bangunan yang bernama Beranda Dalem dengan dihiasi lilin hingga aneka perabotan Eropa yang indah. Bangunan bersudut delapan ini  dahulunya digunakan untuk menjamu tamu-tamu kerajaan, jadi jangan heran jika anda masuk keruang ini dan melihat kaca-kaca berbingkai emas yang memukau terpasang di sepanjang dinding bangunan.

Selain itu, jika anda masuk lebih kedalam Istana Mangkunegaran, anda akan melihat indahnya ruang makan dengan jendela kaca yang menyuguhkan pemandangan alam. Anda pun bahkan dapat melihat kamar mandi kerajaan yang indah, hingga ruang ganti serta ruang rias para putri pangeran adipati, lho!

bangunan-kerajaan-pura-mangkunegaraan
source : rentalmobilyogyakarta.net

Aneka benda pusaka dan perpustakaan

Berkunjung ke Istana Mangkunegaraan dan memasuki ruang Pringgitan, maka anda akan melihat benda-benda peninggalan Kraton Mangkunegaran. Sejak dari luar bangunan pun anda akan disuguhkan foto-foto anggota keluarga kerajaan dan setelah memasuki ruangan, anda akan melihat barang-barang antik milik Kraton seperti pakaian yang dipakai oleh para penari Bedoyo Ketawang, yang merupakan salah satu tarian yang dianggap sakral oleh penduduk setempat.

Selain itu, ruang Pringgitan ini juga menyuguhkan beragam uang logam kuno, perhiasan-perhiasan antik, serta senjata-senjata yang merupakan hadiah dari beberapa negara. Anda juga dapat melihat aneka keris serta peralatan makan dan minum yang terbuat dari perak hingga kristal,  tidak hanya itu, aneka ragam pernak pernik berbahan dasar emas maupun perak juga dapat menarik perhatian anda.

pura-mangkunegaran
source: tretravelearn.com

Tidak hanya memamerkan benda pusaka, di dalam Pura Mangkunegaran juga terdapat Perpustakaan atau Rekso Pustoko yang didirikan pada tahun 1867 oleh Mangkunegara IV. Perpustakaan ini terletak di lantai dua, di atas kantor Dinas Urusan Istana dan disebelah kiri Pamedan. Perpustakaan ini cukup segar karena daun jendelanya dibuka lebar-lebar dan membuat sinar matahari dapat masuk. Anda juga dapat melihat buku-buku berbagai bahasa khususnya Bahasa Jawa dan dapat melihat koleksi-koleksi foto bersejarah hingga data-data mengenai perkebunan dan pemilikan Mangkunegaraan yang lainnya.

Dinner ala Kerajaan Mangkunegaraan

Oh Iya! Jika anda berkunjung ke Mangkunegaran, jangan lupa untuk mengikuti Mangkunegaran Royal Dinner. Acara ini kerap kali menjadi favorit turis asing yang berkunjung ke Pura Mangkunegaran. Dengan membeli paket dinner anda akan menikmati makanan khas Kraton Mangkunegaran seperti garang asem bumbung, sambel goreng bledak, pecel pitik, lodoh pindang hingga puding tape sebagai makanan penutup. Dinner ala Kerajaan Mangkunegaraan ini telah terkenal hingga menjadi daya tarik sendiri bagi turis mancanegara khususnya turis yang berasal dari Jerman, Belanda, Italia dan Perancis.

Masjid Al-Wustho Mangkunegaran

Jika berkunjung ke Pura Mangkunegaran, anda juga dapat mengunjungi Masjid Al-Wustho. Masjid ini merupakan salah satu dari tiga masjid tua dan bersejarah di Kota Surakarta, bersama dengan Masjid Darusalam dan Masjid Agung Surakarta. Pembangunan Masjid Al-Wustho ini diprakarsai oleh Pangeran Mangkunegara I dan menjadi masjid kerajaan bagi Pura Mangkunegaran.

Karena pada awalnya Masjid Al-Wustho merupakan masjid kerajaan, maka masjid ini hanya diperuntukkan bagi para keluarga kerajaan. Akan tetapi, berjalan seiringnya waktu, masjid pun dibuka untuk masyarakat umum. Masjid Mangkunegaran ini dibangun dalam bentuk arsitektur khas Jawa yang konon dalam pembangunannya juga melibatkan seorang arsitek dari Perancis.

pura-mangkunegaran
source : mulyadi.staff.uns.ac.id

Masjid Al-Wustho di Pura Mangkuneragan ini menyuguhkan keindahan ukiran-ukiran kaligrafi yang digambar mulai dari depan gapura masjid hingga kedalamnya. Memiliki luas sekitar 4.200 meter persegi, masjid ini memilki tembok gapura dengan ukiran ayat-ayat Al-Quran yang berbentuk kerucut. Keunikan lain pada masjid Al-Wustho juga terdapat nukilan-nukilan ayat Al-Quran dan Hadits yang menghiasi beberapa bagian masjid. Ruang utama di dalam masjid ini memiliki 4 saka guru atau tiang utama serta 12 tiang tambahan dan tiap tiang-tiang pun berhiaskan kaligrafi Arab.

Wisata di daerah Pura Mangkunegaraan

Selain Masjid Al-Wustho, wisata Solo Pura Mangkunegaraan ini terletak di lokasi strategis dan dekat dengan pusat belanja seperti Pasar Triwindu, Pasar Ngarsopuro dan Museum Batik Danar Hadi. Anda juga dapat berkunjung ke Museum Pers Nasional hingga Loji Gandrung yang dulunya merupakan museum terlengkap dan terbaik pada masa pemerintahan Pakubuwono IX dan Pakubuwono X. Loji Gandrung ini juga menjadi rumah dinas walikota Solo, dan pernah ditempati oleh Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo pada masanya menjabat menjadi walikota Solo.

pura-mangkunegaran-loji-gandrung
source: jateng.tribunnews.com

Cara menuju Pura Mangkunegaraan

Pura Mangkunegaraan ini teletak di lokasi strategis Kota Surakarta. Jika anda ingin menuju Pura Mangkunegaran dari Kota Yogyakarta, anda dapat menggunakan kendaraan umum jurusan Solo dan turun di Terminal Tirtonadi. Setelah itu dilanjutkan dengan menggunakan angkutan kota yang melewati Jl. Urip Sumoharjo. Anda juga bisa menggunakan kereta api dari stasiun Lempuyangan dan Tugu Jogja, turun di Stasiun Jebres dan dilanjutkan dengan naik becak atau taksi.

Jika anda menggunakan kendaraan pribadi, anda dapat menempuh perjalanan Jogja-Solo ini dengan durasi wartu 1,5- 2 jam. Dengan melalui rute Jl. Laksda Adisucipto menuju Jl. Raya Solo dan lanjut menuju Jl. Diponegoro melewati pasar Triwindu dan menuju Jl. Ronggowarsito, Keprabon, Banjarsari, Surakarta.

Cover image source : pariwisatasolo.surakarta.go.id


Pura Mangkunegaran

  • Alamat    : Jl. Ronggowarsito, Keprabon, Banjarsari, Surkarta, Jawa Tengah
  • Kegiatan : Wisata sejarah, berfoto, makan malam kerajaan
  • HTM       : IDR10.000
  • GPS         : -7.5657928,110.7531546,12

Diambil dari : https://bonvoyagejogja.com/pura-mangkunegaran-mengulik-kehidupan-kerajaan-di-surakarta/

Komentar